Assalamu'alaikum!! Selamat Datang di Situs Ahlussunnah Makassar www.almakassari.org

THIS-IS-FEATURED-POST-1-TITLE

FEATURED-POST-1-DESCRIPTION

THIS-IS-FEATURED-POST-2-TITLE

FEATURED-POST-2-DESCRIPTION

THIS-IS-FEATURED-POST-3-TITLE

FEATURED-POST-3-DESCRIPTION

THIS-IS-FEATURED-POST-4-TITLE

FEATURED-POST-4-DESCRIPTION

THIS-IS-FEATURED-POST-5-TITLE

FEATURED-POST-5-DESCRIPTION

Senin, 30 Mei 2011

Universitas NU di Makassar Dipimpin Rektor Perempuan

Posted On 03.58 0 komentar

Universitas NU di Makassar Dipimpin Rektor Perempuan Makassar, NU Online


Dr Ir Hj Majdah Muhyiddin Zein akhirnya terpilih sebagai rektor Universitas Islam Makassar (UIM). Pemegang kuasa Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar yang menaungi universitas ini, HM Aksa Mahmud resmi melantik rektor terpilih, Ahad (27/5) siang kemarin.

Pelantikan berlangsung hikmat di kampus milik Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel ini. Turut hadir, Koordinator Kopertis Wilayah IX, Prof Dr Aminuddin Salle, SH MH, Mustasyara PBNU yang juga sesepuh NU Sul-Sel KH M Sanusi Baco, Lc, Ketua Tanfidziyah NU Sul-Sel KH M Zain Irwanto, Ketua Tanfidziyah NU Kota Makassar Dr H Abd Kadir Ahmad, MS dan civitas akademika UIM.
Demikian dikutip dari harian Fajar Makassar, Senin (28/5). Acara pelantikan diawali dengan pembacaan surat keputusan ketua yayasan. Setelahnya, dilanjutkan pernyataan dari rektor terpilih soal kesiapannya untuk mengembangkan UIM ke arah yang lebih baik. "Saya juga siap berpaya terus menambah jumlah mahasiswa UIM dari tahun ke tahun," katanya.
Majdah juga berjanji tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan politik. Hal ini diungkapkan atas kapasitas sebagai Istri ketua DPRD Sul-Sel Ir H Agus Airifin Nu'man yang juga calon wakil Gubernur Sul-Sel mendampingi H.Syahrul Yasin Limpo.
Sementara itu, Aksa Mahmud dalam sambutannya mengatakan, kampus UIM mencatat sejarah baru. Itu karena untuk pertama kalinya, kampus ini memiliki rektor perempuan. Hal itu menurut Aksa, tentu menjadi kebanggaan tersendiri.
"Saya juga memandang pelantikan ini begitu istimewa. Sebab, sebelum dzuhur, saya melantik suaminya sebagai ketua Makassar Golg Club," ungkap Aksa.
Menurut Aksa, sangat jarang terjadi ada sepasang suami istri yang dilantik dalam sehari pada jabatan berbeda. Lebih istimewa lagi tambahnya, karena sepasang suami istri ini dilantik oleh orang yang sama.
Aksa berharap, hal itu bisa menjadi spirit untuk berbuat lebih baik. Sebab saat ini, masa depan UIM akan sangat ditentukan oleh kinerja dari rektornya.(bade)


Selasa, 17 Mei 2011

Habib Reza bin Muchsin Al-Hamid

Posted On 02.09 0 komentar


Beliau adalah HABIB REZA BIN MUCHSIN AL-HAMID, Pembina majelis dzikir dan shalawat Darul Ilmi WadDa'wah AHBABUL MUSTHOFA Makassar. Beliau sekarang ini menetap di kota Makassar Sulawesi Selatan setelah sebelumnya tinggal di Tegal, Jawa Tengah.

Berikut petikan komentar Habib Reza Al-Hamid:
"alhamdulillah allah swt memberikan karunia & anugerahnya kpd kami dg mempertemukakan kami dg hamba2nya yg mulia untuk menimba & mengambil ilmu dr mereka diantaranya : murobbi ruhi sayyidil habib umar bin muhammad bin hafidz,murobbi ruhi sayyidil habib hasan bin ahmad baharun,murobbi ruhi sayyidil habib zain bin hasan baharun,murobbi ruhi sayyidil habib hamid annaqib bin muhammad bsa. & banyak jg kami dapatkan ilmu/ijazah/pendidikan/pelajaran tabarruk dr habaib & masyayekh tarim diantara mereka : sultonul ulama alhabib salim bin abdullah assyatiri,qolbu tarim alhabib abdullah bin muhammad bin syahab,mufti iynat alhabib abubakar alhaddar, & masih bnyk lg dr pembesar2 ulama hadromaut.inilah karunia & anugerah allah swt yg diberikan kpd kami dan kami bersyukur sebesar2nya syukur dg semua itu. ROBBI FANFA'NAA BIBARKATIHIM, WAHDINAL HUSNA BIHURMATIHIM, WA AMITNAA FI THORIQOTIHIM, WAMU'AFATIN MINAL FITANI."


<molufir@almakassari>


Senin, 16 Mei 2011

Makam Pangeran Diponegoro

Posted On 06.54 0 komentar

http://photos.travelblog.org/Photos/1161/532378/f/5462848-Makam_Pangeran_Diponegoro-_Makassar-0.jpg


http://nengpuspa.files.wordpress.com/2009/09/makam_pangeran_diponegoro.jpg



Sekilas Pangeran Diponegoro


Pangeran Diponegoro merupakan salah satu pahlawan nasional yang berjasa banyak dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaan. Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta.


Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Raden Mas Mustahar, lalu diubah namanya oleh Hamengkubuwono II tahun 1805 menjadi Bendoro Raden Mas Ontowiryo.

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III untuk mengangkatnya menjadi raja. Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.


Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak. Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong. Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. 

Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830 dan ditahan di Fort Rotterdam Makassar yang ruang tahanannya masih bisa kita lihat sampai sekarang. 

Pada 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan diMakamkan di Jl. Kampung Jawa yang sekarang telah diubah menjadi Jl. Pangeran Diponegoro Makassar yang keberadaanya sepertinya sudah tidak dihiraukan lagi oleh masyarakat. padahal jasa dari beliau begitu besar terhadap bangsa ini dan sudah sepantasnyalah tempat bersejarah semacam ini di kelola dan dilindungi dengan baik. 


Makam Pangeran Diponegoro

PANGERAN Diponegoro adalah pahlawan nasional berasal dari Jawa Tengah. Namun bumi Jawa sendiri tidak "memiliki" tubuhnya. Karena tubuh orang yang telah mengobarkan Perang Jawa itu dimakamkan di Kota Makassar. 

Kompleks makam Pangeran Diponegoro merupakan bangunan sederhana. Terdiri dari pintu gerbang, pendopo, dan 66 bangunan makam. Diklasifikasi menjadi dua makam ukuran besar, 25 makam ukuran sedang, dan 39 makam ukuran kecil. Makam-makam tersebut adalah makam Diponegoro dan istrinya, 6 orang anaknya, 30 orang cucu, 19 orang cicit, dan 9 orang pengikutnya.

Makam Pangeran Diponegoro dan istri adalah bangunan terbesar. Menggunakan bahan batu bata, semen, dan batu hongkong. Memiliki atap dengan tiang kayu. Lokasi seputar makam ditumbuhi beberapa pohon yang membuatnya agak sejuk.

Sebelum tahun 1970, kondisi kompleks makam pahlawan nasional ini tidak sebaik sekarang. Pada tahun 1969, Kodam IV Diponegoro (Jawa Tengah) memberikan bantuan materi untuk rehabilitasi kompleks tersebut. Masyarakat setempat juga kerap memberikan bantuan. Tahun 2007 lalu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memberikan bantuan untuk merenovasi kembali.

Lokasi Obyek
Makam Pangeran Diponegoro terletak di dalam Kota Makassar, tepatnya di Jl Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo. Sekitar empat kilometer sebelah utara pusat Kota Makassar (Lapangan Karebosi).

Akses ke Lokasi
Lokasi makam Pangeran Diponegoro dapat diakses dengan angkutan umum, taksi, atau fasilitas angkutan yang disediakan hotel.

Tarif Masuk
Untuk masuk situs ini, pengunjung tidak dikenai biaya. Hanya tersedia sebuah kotak amal yang bisa diisi dengan jumlah sukarela.

http://www.majalahversi.com/sites/default/files/tulisan/wisata_makam_diponegoro_2A.jpg

(Dari Berbagai sumber)


Masjid Raya Kota Makassar

Posted On 06.25 0 komentar

http://static.panoramio.com/photos/original/5824459.jpg


Masjid Raya Makassar diresmikan pada tanggal 25 Mei 1949. Kemudian pada tahun 1957 Presiden pertama RI, Soekarno melaksanakan sholat Jumat di masjid ini. Sedangkan pada tahun 1967, mantan Presiden Soeharto juga berkunjung dan sholat Jumat di masjid perjuangan ini. Karena itu, kehadiran masjid raya merupakan tonggak sejarah masa lalu.

Dana awal pembangunan masjid hanya Rp60.000 yang diprakarsai K H Ahmad Bone, seorang ulama asal Kabupaten Bone tahun 1947 dengan menunjuk ketua panitia KH Muchtar Lutfi, dua tahun kemudian diresmikan dengan menghabiskan biaya Rp1,2 juta.


Seorang jurnalis asing yang mengunjungi masjid tersebut menulis dalam sebuah artikelnya bahwa Masjid Raya Makassar adalah masjid terbesar di Asia Tenggara di masa itu dengan daya tampung sekitar 60.000 orang hingga ke halaman.

Lahan seluar 13.000 meter persegi tempat masjid dibangun adalah bekas lapangan sepakbola Exelsior Makassar yang dihibahkan untuk pembangunan masjid yang dimulai pada 1949, kemudian diresmikan satu tahun kemudian, 

Menurut Wapres, renovasi pertama Masjid Raya Makassar yang dibangun tahun 1949 itu, dilakukan pada tahun 1978 oleh Gubernur Ahmad Lamo. Namun, setelah 29 tahun kemudian atap masjid bocor-bocor sehingga sangat sulit dipertahankan. Karena itu, masjid ini dibangun kembali dengan struktur dan arsitektur baru mengadopsi Masjid Cordoba Spanyol, sementara bangunan lama hanya menyisahkan menara disamping kiri masjid.

Mesjid dua lantai di Jl. Bulusaraung ini menggunakan bahan bangunan sekitar 80 persen dari bahan baku lokal, memiliki dua menara setinggi 66,66 meter, daya tampung 10.000 jamaah dan fasilitas berupa perpustakaan, kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel.

Dana pembangunan masjid masing-masing bersumber dari Jusuf Kalla sebesar Rp18,5 miliar, Aksa Mahmud Rp1,5 miliar, Pemkot Makassar Rp3 miliar, Pemprov Sulsel Rp1 miliar, jamaah masjid Rp1 miliar dan Andi Sose Rp500 juta. Pada hari jumat 27 Mei 2005 bertepatan dengan 18 Rabiul Akhir 1426 H, Masjid Raya Makassar diresmikan pemakaiannya oleh Mantan Wakil Presiden RI, Drs H Muhammad Jusuf Kalla.


Pada awalnya Masjid Raya adalah sebuah lapangan yang kerap dijadikan tempat bermain bola dan tempat lahirnya Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Kini, di atas tanah seluas 13.912 meter persegi itu telah berdiri masjid megah yang dilengkapi berbagai fasilitas dan dapat menampung 10 ribu jemaah.



Bangunan induk masjid ini memuat 10 ribu jemaah, jika digabung dengan halaman masjid dapat menampung hingga 50 ribu jemaah. Ketika pertama kalinya ditempati salat Jumat pada Agustus 1949, sekalipun bangunannya belum rampung namun seluruh ruangan penuh sesak hingga melimpah ke jalan umum.

Pada masa itu, pemerintah menganjurkan semua masjid di kota ini ditutup dan bersatu di Masjid Raya guna melaksanakan salat Jumat berjemaah. Kegiatan tersebut membuat tentara KNIL yang masih berkuasa di Makassar, merasa gusar dan menyesali pemberian izin membangun masjid. Sebab, Masjid Raya tidak hanya sebagai tempat ibadah saja tapi juga digunakan sebagai markas pertemuan dan kegiatan pejuang kemerdekaan.

Lalu bagaimana ihwal arsitektur Masjid Raya ini memiliki dua ruang terpisah? Hal itu bermula ketika Muhammad Soebardjo memenangkan sayembara gambar bangunan Masjid Raya Makassar. Arsitek terkemuka itu menampilkan bentuk menyerupai model pesawat terbang. Di bagian depan dengan sayap di kanan-kiri merupakan teras.

Kemudian badannya yang memanjang dari barat ke timur dengan dua badan atau jalur badan pesawat, lalu bagian timur seperti ekor pesawat akan tetapi tidak meninggalkan keaslian masjid dengan menara, kubah, mihrab, dan lain-lain. Itu disebabkan, Soebardjo ketika itu membaca imajinasi masyarakat Makassar yang setiap harinya dihantui oleh pesawat pengebom B-29 yang melayang-layang di atas kota.

Pada bangunan aslinya, Masjid Raya memiliki Musafir Khana yaitu bangunan khusus tempat penampungan orang-orang terlantar atau musafir dan pelajar yang terputus bantuan dari orangtuanya sehingga memerlukan bantuan. Paling penting adalah masjid ini pertama kali lahir MTQ pada 1955 silam.




Selain desain konstruksi fisik Masjid Raya Makassar dengan kubahnya setinggi 36 meter, juga menjadi andalan dan bentuknya sangat menarik adalah mihrab atau tempat imam/khatib yang menampakkan pada kebesaran Islam di Eropa tepatnya Cordoba Spanyol. 

Kisah menarik yang dialami para perancang dan pelaksana proyek Masjid Raya Makassar, adalah penataan interiornya. Termasuk lukisan kaligrafi yang menghiasi dinding dan langit-langit masjid. Hasilnya bisa disaksikan sekarang, dimana pada bagian yang semula hanya berfungsi sebagai perekat struktur, terhias indah ayat-ayat suci Alquran. Begitupun bagian atas mihrab seluruhnya berhias Asmaul Husna.

Dari pengamatan penulis, Masjid Raya mempunyai beragam kegiatan yang diikuti dan dikelola oleh Remaja Masjid dan pengurusnya. Setiap hari pada bulan Ramadhan menyelenggarakan acara ta'jil menunggu waktu berbuka bersama warga masyarakat sekitar kota Makassar dan dilanjutkan Shalat Tarawih berjama'ah. Masjid Raya Makassar setiap tahunnya tak pernah meninggalkan tradisi Shalat Tarawih khas Ahlussunnah Wal Jama'ah yang berjumlah 20 rakaat plus 3 rakaat witir dalam dua salam. Dalam menyelenggarakan Shalat Jum'at berjama'ah juga tak lupa mengikuti tradisi Ahlussunnah Wal Jama'ah dengan 2 kali adzan Jum'at yang disertai dengan shalat qabliyah jum'at.



http://karim74.files.wordpress.com/2009/06/mesjid-raya-in-makassar-indonesia.jpg


(Dikutip dari berbagai sumber)


KH. Muhammad Nur

Posted On 06.04 0 komentar





Biografi Pengarang:
KH. Muhammad Nur

Beliau lahir pada 7 Desember 1932 di Desa Langkean Kabupaten Maros Sulawesi Selatan

Setelah tamat Volkschool tahun 1941 kemudian memasuki pesantren.

1947-1958 berangkat ketanah suci mekkah untuk memperdalam ilmu agama islam langsung kesumber aslinya yang murni.

Tamat hafal Al qur`an pada madrasah uluumul qur`an Mekkah tahun 1357 H.. Tamat pada Madrasah Fakhriyah Utsmaniyah tahun 1958 dan Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyah hingga memperoleh gelar Asy-Syeik Fadhil dan mendapat sertifikat untuk mengajar di Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyah Mekkah.

Memperoleh ijazah silsilah hadits melalui gurunya sebagai berikut :

1. Asy-Syekh Hasan Al-Yamani
2. Asy-Syekh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutuby
3. Asy-Syekh Sayyid Alwi Abbas Al-Maliky
4. Asy-Syekh Ali Al-Maghriby Al-Maliky
5. Asy-Syekh Hasan Al-Masysyath
6. Asy-Syekh Alimuddin Muhammad Yasin Al-Fadany

Dari ijazah silsilah ini diberi gelar Al-Allamah Al-Jalil KH. Muhammad Nur Bugis

Setelah kembali dari Mekkah memberi pengajian di Mesjid-mesji di Makassar, sekaligus mendirikan/memimpin perguruan islam Ma`had Dirasatil Islamiyah wal Arabiyah ujung pandang. Pada tahun 1988 membuka pesantren dengan nama Ma`han An-Nur Fi Ulumil Qur`an DI Maccopa Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.


Agenda Event / Kegiatan

Posted On 04.05 0 komentar

BULAN JULI 2011

TABLIGH AKBAR MALAM NISHFU SYA'BAN 
MAJELIS AHBABUL MUSTHOFA
Bersama: Habib Reza bin Muchsin Al-Hamid, dkk.
Tempat : halaman Jl. Ade Irma , Makassar
Waktu: Ba'da Shalat Isya


- Sabtu, 2 Juli 2011


BULAN JULI 2011

- Kamis, 30 Juni 2011



BULAN MEI 2011


- Jum'at 20 Mei 2011



assalamu alaikum warmatullahi wabarakatuh, saudara/saudariku seiman, kami mengharapkan kehadiran kalian dalam acara malam puncak milad Majelis Al-Mubarakh ke-10 yang insya allah akan dilaksanakan pada hari Jumat 20 Mei 2011 bertempat di Balai Prajurit Jendral M.yusuf Makassar (Diawali dengan Shalat Maghrib berjamaah) dengan Tema "Indonesia Berdzikir dan Bershalawat untuk keselamatan-kesehatan bangsa dan Negara"Atas Kehadiran saudara/saudariku. Kami ucapkan jazakallah Khairan Katsira.Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Minggu, 15 Mei 2011

Syaikh Yusuf Al-Makassari

Posted On 09.28 0 komentar



Nama lengkapnya Tuanta Salamka ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Yaj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni. Tapi, ia lebih populer dengan sebutan Syekh Yusuf. Sejak tahun 1995 namanya tercantum dalam deretan pahlawan nasional, berdasar ketetapan pemerintah RI.

Beliau tercantum namanya sebagai seorang pahlawan nasional Indonesia sejak tahun 1995, beliau lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, (dekat Makassar) pada 03 Juli 1626 dari pasangan Abdullah dengan Aminah dengan nama Muhammad Yusuf. Nama ini diberikan oleh Sultan Alauddin, raja Gowa, yang juga adalah kerabat ibunda Syekh Yusuf, keluarga Gallarang Monconglo'E adalah keluarga bangsawan dimana Siti Aminah, ibunda Syekh Yusuf berasal. Pemberian nama itu sekaligus mentasbihkan Yusuf kecil menjadi anak angkat raja.
Syekh Yusuf berasal dari keluarga bangsawan tinggi di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa, dan Bone. Syekh Yusuf sendiri dapat mengajarkan beberapa tarekat sesuai dengan ijazahnya. Seperti tarekat Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba`alawiyah, dan Qadiriyah. Namun dalam pengajarannya, Syekh Yusuf tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri dalam abad ke-17 itu.

Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Cikoang belajar mengaji pertama kali pada Daeng Ri Tassamang, guru kerajaan Gowa. Syekh Yusuf juga berguru pada syekh terkenal di Makassar saat itu yakni Sayyid Ba-lawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Jalaludin Al-Aydit. Kembali dari Cikoang Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten sebelum melanjutkan perjalanan ke Aceh. Di Banten ia bersahabat dengan putra mahkota Kerajaan Banten Pangeran Surya (Sultan Ageng Tirtayasa), yang kelak menjadikannya mufti Kesultanan Banten. Di Aceh, Syekh Yusuf berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan mendalami tarekat Qodiriyah sampai mendapat ijazah Tariqat Qodiriyah. Dari Aceh Syekh Yusuf juga berangkat mencari ilmu ke Yaman, dan berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi sampai mendapat ijazah tarekat Naqsabandiyah. Ijazah tarekat Assa'adah Al Ba'laiyah juga diperolehnya dari Sayyid Ali Al-Zahli. Ia juga melanglang ke se-antero Jazirah Arab untuk belajar agama. Gelar tertinggi, Al-Taj Al-Khalawati Hadiatullah, diperolehnya saat berguru kepada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi dari Syam (Damaskus). dilanjutkan dengan pendalaman bahasa Arab, ilmu fikih, dan tasawuf. 
Setelah sampai di Jeddah, Syekh Yusuf meneruskan perjalanannya ke mekkah dan Syekh Yusuf ingin menuntut ilmu kepada imam-imam dari 4 mazhab, tetapi ke empat imam tersebut mengatakan bahwa ia tidak perlu belajar karena ilmu yang Syekh Yusuf punyai sudah cukup. Tetapi imam-imam tersebut menganjurkan agar Syekh Yusuf belajar kepada Abu Yazid, Dari sini Syekh Yusuf disuruh lagi belajar kepada Syekh Abdul Al-Qadir Al Jailani. Syekh Yusuf juga mengunjungi makam Nabi di madinah. Kemudian Syekh Yusuf kembali ke Banten dan menikah dengan putri sultan Banten yang bernama Syarifah. Setelah raja gowa mendengar bahwa Syekh Yusuf berada di Banten, raja Gowa mengirim utusan agar supaya Syekh Yusuf kembali ke tanah Gowa. Akan tetapi Syekh Yusuf menolak dengan pernyataan bahwa beliau tidak akan kembali ke Gowa apa bila kesufiaannya tidak sempurna (Sufi yang dimaksud yakni akhir kehiduapannya) maka sebelum beliau mati beliau tidak akan pernah kembali ke Gowa. Di Banten Syekh Yusuf mempunyai banyak murid dan murid-murid Syekh Yusuf juga ada dari kalangan istana kerajaan di Jawa Barat. Dari pernikahannya Syekh Yusuf dengan putri Banten diberikan keturunan anak laki-laki. Kemudian Syekh Yusuf menikah juga dengan seorang wanita dari Serang dan Giri yang juga mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan sehingga keturunan Syekh Yusuf di Jawa banyak. 
Setelah hampir 20 tahun menuntut ilmu, akhirnya beliau pulang ke kampung halamannya di Gowa. Tapi ia sangat kecewa setelah melihat kampung halamannya porak poranda dan maksiat merajalela, saat itu Gowa baru kalah perang melawan Belanda. Setelah berhasil meyakinkan Sultan untuk meluruskan pelaksanaan syariat Islam di Makassar, beliau kembali merantau pada tahun 1672 ia berangkat ke Banten. Saat itu Pangeran Surya sudah naik tahta dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Di Banten ia dipercaya sebagai mufti kerajaan dan guru bidang agama. Syekh Yusuf menjadikan Banten sebagai salah satu pusat pendidikan agama. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah, termasuk di antaranya 400 orang asal Makassar di bawah pimpinan Ali Karaeng Bisai. Di Banten pula Syekh Yusuf menulis sejumlah karya demi mengenalkan ajaran tasawuf kepada umat Islam Nusantara. Seperti banyak daerah lainnya saat itu, Banten juga tengah gigih melawan Belanda. Permusuhan meruncing, sampai akhirnya meletus perlawanan bersenjata antara Sutan Ageng di satu pihak dan Sultan Haji besert aKompeni di pihak lain. Syekh Yusuf berada di pihak Sultan Ageng dengan memimpin sebuah pasukan Makassar. Namun karena kekuatan yang tak sebanding, maka akhirnya pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682. Mualilah babak baru bagi kehidupan Syekh Yusuf, hidup dalam pembuangan. Ia mula-mula ditahan di Cirebon dan Batavia (Jakarta), tapi karena pengaruhnya masih membahayakan pemerintah Kolonial, ia dan keluarga diasingkan ke Srilanka, bulan September 1684. Bukannya patah semangat, di negara yang asing baginya ini beliau memulai perjuangan baru. Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga dalam waktu singkat murid-muridnya mencapai jumlah ratusan, yang kebanyakan berasal dari India Selatan. Beliau juga bertemu dan berkumpul dengan para ulama dari berbagai negara Islam. Salah satunya adalah Syekh Ibrahim Ibn Mi'an, ulama besar yang dihormati dari India. Ia pula yang meminta Syekh Yusuf untuk menulis sebuah buku tentang tasawuf, berjudul Kayfiyyat Al-Tasawwuf. termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf. Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, beliau juga bisa leluasa bertemu dengan sanak keluarga dan murid-muridnya di negeri ini. Kabar dari dan untuk keluarganya ini disampaikan melalui jamaah haji yang dalam perjalan pulang atau pergi ke Tanah Suci selalu singgah ke Srilanka. Ajaran-ajarannya juga disampaikan kepada murid-muridnya melalui jalur ini. Hal itu merisaukan Belanda. Mereka menganggap Syekh Yusuf tetap merupakan ancaman, sebab dia bisa dengan mudah mempengaruhi pengikutnya untuk tetap memberontak kepada Belanda. Lalu dibuatlah skenario baru; beliau diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, ke Afrika Selatan pada bulan Juli 1693. Menekuni jalan dakwah pada bulan-bulan pertama bagi Syekh Yusuf dan 49 pengikutnya di Afrika selatan. Untuk pertama kalinya mereka sampai di Tanjung Harapan dengan kapal De Voetboog dan ditempatkan di daerah Zandvliet dekat pantai (tempat ini kemudian disebut Madagaskar). Di negeri baru ini, ia kembali menekuni jalan dakwah. Saat itu, Islam di Afrika Selatan tengah berkembang. Salah satu pelopor penyebaran Islam disana adalah Imam Abdullah ibn Kadi Abdus Salaam atau lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru.


Tuan Guru lahir di Tidore. Tahun 1780, ia dibuang ke Afrika Selatan karena aktivitasnya menentang penjajah Belanda. Selama 13 tahun ia mendekam sebagai tahanan di Pulau Robben, sebelum akhirnya dipindah ke Cape Town. Kendati hidup sebagai tahanan, aktivitas dakwah pimpinan perlawanan rakyat di Indonesia Timur ini tak pernah surut. Jalan yang sama ditempuh Syekh Yusuf. Dalam waktu singkat ia telah mengumpulkan banyak pengikut. Selama enam tahun di Afrika Selatan, tak banyak yang diketahui tentang dirinya, sebab dia tidak bisa lagi bertemu dengan jamaah haji dari Nusantara. Kendati putra Nusantara, namanya justru berkibar di Afrika Selatan. Ia dianggap sebagai sesepuh penyebaran Islam di negara di benua Afrika itu. Tiap tahun, tanggal kematiannya diperingati secara meriah di Afrika Selatan, bahkan menjadi semacam acara kenegaraan. Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat presiden Afsel, menjulukinya sebagai 'Salah Seorang Putra Afrika Terbaik'. Usianya pun saat itu telah lanjut, 67 tahun. Ia tinggal di Tanjung Harapa nsampai wafat tanggal 23 Mei 1699 di Cape Town Afrika Selatan dalam usia 73 tahun. Oleh pengikutnya, bangunan bekas tempat tinggalnya dijadikan tugu peringatan. Sultan Banten dan Raja Gowa meminta kepada Belanda agar jenazah Syekh Yusuf dikembalikan, tapi tak diindahkan. Baru setelah tahun 1704, atas permintaan Sultan Abdul Jalil, Belanda pengabulkan permintaan itu. Tanggal 5 April 1705 kerandanya tiba di Gowa untuk kemudian dimakamkan di Lakiung keesokan harinya.